Selasa, 04 Juni 2013

Kampung Kita Dikepung Kampung Dunia

SUATU HARI seorang ibu-ibu yang hendak membeli rambutan bertanya kepada penjualnya. “Ini bagus semua ya rambutannya? Ndak ada yang kecut kan..?”

Tentu saja penjual dengan yakin mengatakan tak sebiji pun yang tak enak dimakan, apalagi yang busuk dalamnya. Nggak ada. Semua manis, segar, dan hetet.

“Manis semua Bu. Kalau ndak manis kembalikan,” ujar penjual meyakinkan.

Tak perlu ungkapan panjang-panjang, satu kalimat itu saja menyihir ibu-ibu pembeli rambutan yang segera minta dikresekkan dua kilo rambutan yang terlihat segar itu.  Selembar uang duapuluh-ribuan pun disodorkan, bertukar satu kresek hitam penuh buah dengan daun yang ikut menjulur keluar. Pertanda buah baru saja dipetik dari pohonnya.

Sayangnya, kalimat promosi itu tak terbukti. Tak lama, ibu-ibu pembeli kembali menemui penjual sambil marah-marah. Murka seperti ledakan tabung gas 3 kg yang selang regulatornya digigit tikus dapur.

“Bapak ini jangan suka bohongin pembeli. Kalau ndak manis bilang ndak. Jangan lain di mulut lain kenyataan. Cuma mau untung saja pake menipu. Bohong, palsu, menipu. Dosa pak, dosa. Neraka tempat Bapak. Ini saya kembalikan, kembalikan juga uang saya..!!”

Bluuuurrr….

Penjual tak kalah sengitnya.

“Ibu ini jangan marah-marah begitu, bawa-bawa neraka pula. Hei Bu…, Ibu baru beli dua kilo saja marah-marah kayak dunia mau kiamat. Lihat itu empat keranjang, saya juga ditipu…”

Kisah di atas itu adalah sebuah parodi kehidupan manusia sehari-hari. Cerita itu tidak benar-benar terjadi. Tetapi mudah-mudahan kita bisa memetik hikmah dari kisah di atas.

Ibu-ibu pembeli itu barangkali tak bermaksud berkata kasar, tapi karena merasa mendapat perlakuan tidak adil, jadinya bereaksi atas tindakan kebohongan. Penjual buah mungkin saja tidak mau mengelabui pembelinya. Tapi bisa jadi karena terpaksa, dia pun melakukan kebohongan setelah sebelumnya merasa ditipu oleh pengepul buah tempat dia membeli.

Pengepul? Mungkin pula menghadapi problem yang sama. Mendapat perlakuan yang tak adil pula entah oleh siapa. Apakah petani buah, apakah makelar buah. Entah siapa. Tetapi yang pasti jalinan itu tidak berakhir di petani buah. Masalah yang dihadapi petani buah saja sudah banyak.

Tetapi kehidupan kita memang saling berjalinan. Seperti kawat listrik di atas rumah kita yang saling terhubung. Stop-kontak induknya cuma satu. Ada di pembangkit listrik (generator). Sekali tekan tombol tanda “hidup” atau “mati,” seluruh jaringan listrik di rumah-rumah penduduk bisa padam atau menyala. Itu baru jaringan yang kecil. Bagaimana dengan jaringan listrik di Jawa-Bali dengan jumlah penduduk yang terlayani listrik dari satu generator sekitar 90 juta jiwa. Tentu saja listrik di rumah-rumah se Jawa-Bali akan padam jika ada yang menekan tombol “off” di pembangkitnya. Begitulah jaringan. Saling berjalin-berkelindan.

Dan itu barulah soal-soal kecil menyangkut pedagang buah dan jaringan listrik. Dalam jaringan yang tidak seberapa luas pula.

Sekarang ini dalam kehidupan kita sehari-hari, ada jaringan yang lebih besar dan lebih rumit yang tak sanggup kita pahami. Tetapi kita hidup di dalamnya. Dan bahkan dalam jaringan kehidupan di dunia ini, bukan cuma soal yang terlihat nyata yang terlibat dalam jaringan-jaringan itu. Cara kita berpikir dan cara kita mengambil keputusan pun sudah dipengaruhi oleh jaringan yang kita tidak mengerti.

Banyak orang yang kurang percaya bahwa kehidupan mereka sehari-hari terhubung dengan jaringan sangat besar yang kita sebut jaringan global. Jaringan yang mendunia. Yakni globalisasi yang terkenal itu.
Di dalamnya ada pengendali yang mengatur dan menyusun rencana-rencana demi kepentingan di luar kepentingan kita. Mereka menjalankan rencana-rencana dengan cara terang-terangan maupun tersembunyi. Muncul di hadapan kita atau menyusup ke dalam pikiran kita.

Para pengendali dalam jaringan-jaringan itu ada di mana-mana. Masuk ke dalam ruang keluarga kita melalui televisi, internet, handphone, buku-buku, koran, dan informasi lainnya yang bertebaran di mana-mana. Kita lalu dengan mudah menyerap semuanya, dan tiba-tiba secara sadar ataupun tidak sadar menyetujui banyak hal yang kita dapatkan dari dunia yang tanpa batas ini. Dari informasi yang sehari-hari mengepung kita dari banyak penjuru. Meskipun bertolakbelakang dengan cara-cara kita selama ini.

Mari renungkan ke belakang, ketika dahulu —yang bahkan belum terlalu lampau— warga di kampung kerap tidak terlalu biasa dengan pemandangan perempuan yang duduk menghadap ke muka sewaktu membonceng sepeda motor. Kini lihatlah, betapa mudah sekali mendapati suasana serupa itu di jalan-jalan gang kampung kita. Dan rasa-rasanya, walaupun sanggup mencegah namun tidak kita lakukan.

Lantas bagaimana pula dengan yang tak mampu kita cegah. Seperti penggunaan fasilitas publik —toilet umum yang di mana-mana memaksa kita memanfaatkannya dengan cara yang berlawanan dengan cara-cara kita. Pernahkah Pembaca menyadari bahwa kita dipaksa kencing sambil berdiri manakala menggunakan tolet umum di banyak fasilitas publik. Padahal sejak kecil kita dituntun agar buang air kecil dilakukan dengan cara duduk berjongkok.

Siapa yang menyediakan sarana umum seperti itu. Untuk siapa disediakan sarana umum seperti itu yang membuat kita mau tidak mau terpaksa mengikuti cara-cara yang berbeda dengan kita itu.
Ternyata dunia yang kita huni ini sudah dibentuk dengan satu standar, dengan satu takaran. Yaitu ukuran yang berlaku pada orang-orang di luar kita. Ukuran yang hanya cocok diterapkan di dunia Barat. Kita menyebutnya sebagai peradaban Barat modern.

Peradaban Barat modern yang memegang kendali globalisasi ini telah mengatur semua segi kehidupan kita. Di rumah, di pasar, di kantor-kantor, di sekolah, di mana saja.

Di sekolah, kita dan anak-anak kita belajar ilmu pengetahuan yang sumbernya dari peradaban Barat modern. Teori evolusi sudah lama jadi perdebatan orang. Namun selama itu pula buku pelajaran yang memaparkan asal-muasal manusia dari kera itu masih digunakan orang. Kita terpaksa membaca buku mengenai asal-muasal manusia yang menyebutkan bahwa Tuhan tidak berperan dalam proses penciptaan manusia.
Ilmu yang kita serap di sekolah-sekolah lebih banyak berasal dari peradaban Barat yang menjadikan ilmu sebagai alat sangat halus dan tajam untuk menyebarluaskan cara dan pandangan hidup suatu kebudayaan. 
Yaitu kebudayaan yang berlawanan dengan keyakinan kita.

Disebabkan cara peradaban Barat modern itu halus dan tajam dalam menyebarluaskan peradaban melalui ilmu pengetahuan, maka kita pun seringkali mengira kebenaran berasal dari mereka. Ditambah pula kita tak punya kemampuan membongkar fenomena alam dan fenomena sosial dengan bersandar pada agama.
Ilmu pengetahuan yang bersumber dari peradaban Barat modern laksana virus, kata ilmuan Islam bernama Syed Muhammad Naquib al-Attas. Sehingga ilmu pengetahuan Barat modern merupakan tantangan paling besar bagi kaum muslimin saat ini.

Dalam pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas, peradaban Barat modern telah membuat ilmu menjadi problematis. Selain telah salah memahami makna ilmu, peradaban Barat juga telah menghilangkan maksud dan tujuan ilmu. Sekalipun peradaban Barat modern telah menghasilkan ilmu yang bermanfaat, namun peradaban tersebut juga telah menyebabkan kerusakan dalam kehidupan manusia. (Membangun Peradaban dengan Ilmu, Penerbit Kalam).


Sayangnya, kehidupan kita dikepung oleh standar ukuran-ukuran yang berbeda dengan kita. Takaran kehidupan yang berlawanan itu menyerang secara membabi-buta lewat banyak cara. Itu melemahkan kita, sampai-sampai seringkali kita tidak percaya bahwa cara-cara kita telah berganti standar cara mereka. Apa yang dahulu terpelihara dengan baik, kini sudah memudar. Bahkan kita menggunakan ukuran yang melampaui takaran-takaran mereka.

Tulisan ini adalah salah satu bagian dari Buku Gerakan Merajut Cinta Keluarga (Gemercik), Penerbit Badan Takmir Masjid Pusaka Al Hamidy Pagutan Mataram.